Blogger Widgets

Minggu, 19 Februari 2012

UNSUR-UNSUR PENYULUHAN PERTANIAN



A.  PENGERTIAN MAKRO
Bagi suatu negarayang tengah mengembangkan modernisasi pertanian, kegiatan-kegiatan penyuluhan selalu diperhatikan. Moderesisasi berarti menerapkan teknologi-teknologi baru yang dapat lebih meningkatkan hasil. Teknologi bertani yang lamakurang efektif dan efesien harus dinggalkan diganti dengan teknologi bertani yang baru yang lebih efektif dan efesien dan tentunya hal ini memerlukan waktu (transisi). Teknologi penyuluhan pertanian harus memadai dan perlu mendapatkan pembaharuan. Artinya unsure-unsur penyuluhan harus lebih terarah, lebih terorganisasi dan prosesnya harus lebih singkat sehingga tujuan penyuluhan dapat lebih cepat tercapai.

Setelah rakyat Indonesia berhasil merebut kemerdekaan dari tangan penjajah belanda. Menurut sejarahnya, penyuluh telah mengalami 3 kurun waktu perubahan, yang jelasnya adalah sebagai berikut:

1.      Kurun waktu 1945-1957.
Dalam kurun waktu ini terdapat usaha-usaha untuk menemukan suatu system penyuluhan pertanian yang dapat menjamin hasil kuantitatif yang lebih besar dalam waktu yang tidak terlalau panjang. Pada tahun 1947 dikemukakan sistem penyuluhan melalui Balai Pendidikan Masyarakat Desa (BPMD) yang dilakukan disetiap kecamatan. Dengan dilakukan sistem penyuluhan demikian, baik kuantitas maupun kualitas produk tanaman pangan dapat meningkat.

2.      Kurun waktu 1958-1963
Sejalan dengan dibentuknya “Badan Produksi Bahan Makanan dan Pembukaan Tanah” (BMPT) pada tahun 1959, yang brtugas meningkatkan produksi beras, telah dibentuk pula “Padi Centra” yang bertugas sebagai pelaksana intenfikasi pertanian. Sistem penyuluhan mengalami perubahan, dari sistem “tetesan minyak” yang perna dijalankan pada masa pemerintahan Belanda dan dilanjutkan oleh Pemerintahan kita melalui BPMD diatas, menjadi “penyuluhan secara massal”. Ternyata sistem penyuluhan ini mengalami kegagalan karena para petani mempunyaianggapan yang kurang baik terhadap kegiatan penyuluhan ini.


3.      Kurun waktu 1964-hingga sekarang
Kegagalan  sistem penyuluhan yang dilakukan Padi Centra, menimbulkan sistem penyuluhan yang baru. Masih dalam tahun 1963 dilakukan percobaan sistem “Demas” atau Demontrasi Massal dan ternyata dapat diterimah oleh para petani. Pada pelaksanaan selanjutnya (sekitar tahun 1965-1966) Demas diubah namanya menjadi “Dimas” atau Bimbingan Massal. Bimas dilengkapi dengan BUUD yang melayani segalah kebutuhan para petani untuk melaksanakan dan menggiatkan usaha pertaniannya, sedang bagi penampungan produk-produk pertanian yang akan dijual oleh para petani kembngkan KUD yang dapat menampung produk-produk itu dengan harga yang seragam yang disesuaikan dengan hrga umum. Dengan bemikian para petani menjadi teransang dan penyulukanpun berlangsung dengan baik dan dapat diterima oleh para petani.

Demikianlah tentang perkembangan penyuluhan di Tanah Air kita, ysng terus berkebang sejalan dengan perkembangan teknologi dibidang pertanian.

B.  UNSUR-UNSUR PENYULUHAN
Unsur-unsur penyuluhan pertanian yaitu semua unsure (faktor) yang terlibat, turut serta atau diikutsertakan kedalam kegiatan penyuluhan pertanian, antara unsur yang satu dengan unsure lainnya tidak dapat disahkan karena semuanya tunjang-menunjang dalam satu aktifitas. Unsure-unsur tersebut adalah:

1.      Penyluhan Pertanian (sumber)
2.      Sasaran penyuluhan pertanian
3.      Metode penyuluhan pertanian
4.      Media penyuluhan pertanian
5.      Materi  penyuluhan pertanian
6.      Waktu penyuluhan pertanian
7.      Tempat penyuluhan pertanian

C.  PENYULUH PERTANIAN
Penyuluh pertanian adalah orang yang mengemban tugas memberikan dorongan kepada para petani agar mau mengubah cara berfikir, cara kerja dan cara hidupnya yang lama cengan cara-cara baru yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman, perkembangan teknologi pertanian yang lebig maju. Dengan demikian seorang penyuluh pertanian dalam kegiatan tugasnya yang diemban akan mempunyai 3 peranan yang erat , yaitu :
1.      Berperan sebagai pendidik. Yang memberikan pengetahuaan / cara-cara baru dalam dudidaya tanaman, agar para petani lebih terarah dalam usaha pertanian.
2.      Berperan sebagai pemimpin. Yang dapat membimbing dan memotifasi para petani agar mau mengubah cara berfikir.
3.      Berperan sebagai penasehat. Yang dapat melayani, memberi  petunjuk-petunjuk dan membantu petani baik dalam bentuk peragaan / memberikan contoh-contoh kerja dalam usaha tani.

Berdasarkan fungsi atau tugasnya, maka kita akan mendapatkan:

1.      Penyuluh yang langsung berhubungan dengan para petani. Ia harus di kenal oleh para petani. Oleh karna itu ia harus sering bertatap muka dengan para petani dipedesaan dalam menyampaikan segala amanat yang berkaitan dengan usaha tani. Dalam hal ini misalnya : Penyuluh Pertanian Lapangan ( PPL), Penyuluh Pertanian Media ( PPM).
2.      Penyuluh yang tidak langsung berhubungan dengan para petani. Yang pada umumnya terdiri dari para ahli pertanian yang berkedudukan sebagai pegawai pada Dinas Pertanian.

D.  SASARAN PENYULUHN PERTANIAN
Sasaran  penyuluha pertanian yaitu siapa sebenarnya yang disuluh atau
ditujukan kepada siapa penyuluhan pertanian tersebut. Maka dengan tegas kita dapat menyatakan bahwa sasaran penyuluhan pertanian adalah para petani beserta keluarganya. Menurut ROGERS penduduk desa mempunyai sifat sebagai berikut :

1.      Mutual distrust in interpersonal relation
Pada umumnya mereka kurang saling merasakan dalam pergaulan diantara mereka sendiri. Dalam hal ini kita sering mendapatkan kenyataan bahwa petani yang memperoleh kemajuan, terlebih-lebih kalau hal itu berlangsung dalam waktu yang sangat singkat, petani itu dianggap melakukan hal/ kegiatan yang “ bukan-bukan”. Para petani lainnya jarang lelakukan pendekatan, mencari infirmasi nyata kegiatan apa yang menjadikan kemajuannya itu.

2.      Lack and difficult to innovate new ideas and technology
Sulit dan sangat kekurangan daya untuk mendapatkan paham atau ide-ide baru, pada umumnya para petani selalu tertutup sehingga tidak mampu menentukan ide-ide baru bahkan untuk menerapkan cara-cara baru yang masuk kedalam masyarakatnya harus melalui beberapa tahapan atau baru akan menerimanya setelah nyata keyakinanya bahwa akan menguntungkan.

3.      Lack thiking for the future
Kurang kemampunya untuk memikirkan kehidupannya dumasa depan misalnya sehabis panenan sudah menjadi kebiasaan untuk melakukan perayaan khitanan, perkawinan yang meriah sehingga kekurangan biaya ditutup denga kredit yang kadang-kadang berbunga besar. Menabung untuk hari depan bagi keluarganya jarang sekali perfikirkan.

4.      Low aspirational level
Motifasinya untuk memikirkan peningkatan atau perbaikan pada yang sekarang dialami adalah rendah, demikian pula aspirasinya untuk meningkatkan taraf hidupnya.

5.      Lack of deffered to gradification
Pada umumnya mereka kurang dapat mengekang nafsu, tida dapat menahan diri terhadap sesuatu yang diinginkannya, kurang cermat dan tidak mampu mengambil kepuutusan yang menguntungkan. Hal ini terbukti dari banyaknya hubungan dengan para pengijon dan kaum lintah darat.

6.      Limited time expected
Pada umumnya mereka kurang dapat membedakan apayang kini sedang mereka hadapi, yang sudah terjadi dan apa yang mungkin bakal mereka hadapi. Keneng-kenangan keadaan, kejadian dimasa lampau/ yang telah terjadi sangat berbekas pada dirinya, sehingga perencanaan untuk masa depan tidak diperhatikannya.

7.      Familism
Jalinan dengan keluarga sendiri sangat erat sehingga kerap kali jalinan dengan orang lain terabaikan, terutama dalam hal sambil koreksi. Dalam masyarakat yang menganut system marga selalu terdapat kecurigaan terhadap mereka yang bukan sanak.

8.      Dependent upon government authority
Pembuatan sarana – sarana yang menunjang dan melncarkan usaha tani (IRIGASI) jalan dan jembatan. Menurut anggapan kebanyakan dari mereka adalah merupakan kewajiban dari pejabat penguasa ( PEMERINTAH).
9.      Local likeness
Sifatnya sangat local, pergerakannya dalam masyarakat demikian terbatas sehingga kebanyakan dri mereka kurang mengetahui perubahan – perubaan keadaan yang berlngsung diluar lingkunganya.

10.  Lack of impaty
Mereka pada umumnya kurang mampu atau katakanlah kehilangan kemampuannya untuk mengetahui dan menepatkan diri dalam kemauan atau kehendak orang lain sehingga kerap kali sulit untuk berkomunikasi.

Penonjolon sifat – sifat di atas mengharuskan dilaksanakannya penyuluhan dengan cara yang sebaik – baiknya, menerapkan system penyuluhan dengan memperhatikan sifat – sifat tersebut. Pada pokoknya penyuluh harus berprinsip sebagai berikut :

1.      Cara berpikir, cara kerja dan cara hidup petani diusahakan harus berubah sesuai dengan kemajuan – kemajuan yang dikehendaki dengan perlakuan – perlakuan penyuluhan pertanian.
2.      Harus selalu ingat bahwa sasaran yang dihadapi adalah para petani yang harus diketahui kemampuan – kemampuannya,
3.      Penyuluhan bukanlah pendidikan formal.
4.      Para petani kemampuannya untuk menerima pembaharuan atau hal – hal yang baru sifatnya tidak sama
5.      Di antar sekian banyak petani dalam masyarakat petani tentu ada petani – petani yang tergolong innovator, early adopter, yang keadaannya dapat mudah diketahui, mereka itu perlu didekati, terutama early adopter yang dapat dimanfaatkan untuk membantu memperlanacar segala kegiatan penyuluhan sehingga prosesnya dapat dipercepat.
6.      Para petani itu layaknya sebagai manusia lainnya tentu mempunyai keinginan dan harapan – harapan besar yang dapat memperbaiki tingkat kehidupannya.
7.      Selanjutnya setelah penyuluhan – penyuluhan berlangsung, penyuluh akan dapat mengetahui petani mana yang tergolong petani naluri, petani maju, petani teladan dan kontak tani.

E.   METODE PENYULUHAN PERTANIAN
Kegiatan penyuluhan pertanian tidak dapat digunakan begitu saja, oleh karena itu memerlukan metode atau cara – cara yang dapat digunakan, yang harus bersifat mendidik, membimbing dan menerapkan, sehingga para petani dapat menolong dirinya sendiri, mengubah tingkat pemikiran, tingkat kerja dan tingkat kesejahteraan hidupnya.




Dalam penyuluhan dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu :
1.      Personal approach method (metode pendekatan perorangan)
Metode ini dilakukan dengan pendekatan – pendekatan secara langsung pada petani, biasanya dilakukan dengan cara kunjungan – kunjungan ke rumah, kunjungan ke ladang, maupun hubungan telepon. Metode ini sangat efektif karena petani dapat secara langsung memecahkan apa yang menjadi masalahnya. Penyuluhan yang dilakukan dengan metode pendekatan perorangan akan menyampaikan petani ke tahap penerapan, ia mulai menerapkan teknologi baru yang diajarkan/dikembangkan penyuluh.

2.      Group approach method (metode pendekatan kelompok)
Metode ini dilakukan dengan pendekatan pada para kelompok – kelompok tani, dimana para petani diberi  bimbingan dan dan diarahkan secara berkelompok. Bimbingan seperti ini dapat saling membantu antara satu petani dengan petani yang lain karena pelaksanaannya secara berdiskusi, saling tukar pendapat dan pengalaman. Metode ini lebih memudahkan penyuluh, sebab penyuluh tidak terlalu terkuras tenaganya. Metode ini mulai menarik para petani ke tahapan minat, tahapan menilai/mempertimbangkan, bahkan mencobanya pula.

3.      Mass approach method (metode pendekatan masal/umum)
Metode ini biasanya tertuju pada petani perkampungan/pedesaan. Metode ini dipandang dari segi penyampaian informasi memang metode ini baik, sebab penyampaian informasi dapat dilakukan secara keseluruhan para petani. Tetapi bila dilihat dari segi keberhasilannya akan kurang efektif, karena apabila pertemuan – pertemuan yang dilakukan secara masal akan menimbulkan tidak kosentrasinya para petani  dalam hal mendengarkan apa yang disampaikan penyuluh. Metode ini pada dasarnya masih pada tahapan kesadaran (menaruh perhatian) akan tetapi belum memahaminya secara mendalam.

Penyuluhan dapat digolongkan berdasarkan bagaimana penyuluh menyampaikan materi/isi, yaitu :

1.      Metode yang dapat didengar,  metode ini biasanya melalui telepon, ceramah, pidato, dll.  Hasil penangkapan dari mendengar bagi responden yaitu 10%.
2.      Metode yang dapat dilihat, metode ini dalam bentuk gambar, spanduk/poster, film bisu, pameran tanpa penjelasan vocal, dll. Hasil penangkapan dari melihat bagi responden yaitu 50%.
3.      Metode yang dapat didengar dan dilihat, penyuluh dapat menyajikan dengan gambar di televise, film bersuara, dll. Hasil penangkapan dari melihat, dan mendengar yaitu 90%.

F.    MATERI, MEDIA DAN ALAT PEMBANTU PENYULUHAN PERTANIAN

1.     Materi penyuluhan pertanian
Materi yang disampaikan penyuluh menyangkut ilmu dan teknologi pertanian yang belum diketahui para petani. Materi penyuluhan harus sesuai dengan kebutuhan sasaran (petani) yaitu usaha perbaikan produksi, perbaikan pendapatan dan perbaikan tingkat kehidupan dengan demikian maka petani akan tertarik perhatiannya dan terangsang untuk mempraktekkannya. Selain harus sesuai dengan kebutuhannya maka harus pula :

Ø  Sesuai dengan tingkat kemampuan petani
Ø  Mengena pada perasaannya
Ø  Memeberi atau mendatangkan keuntungan ekonomis
Ø  Mengsankan dan merangsang petani untuk melaksanakan perubahan
Ø  Bersifat praktis
Ø  Menggairahkan para petani sehingga para petani seakan-akan terbujuk untuk selelu meu untuk memperhatikan, menerima dan melaksanakan kegiatan yang diterapkan.
Ø   
2.     Media penyuluhan pertanian
Dalam proses komunikasi antara penyuluh dengan petani maka perlu adanya media yaitu berupa saluran. Dengan demikian komunikasi two ways traffic akan berjalan dengan lancar. Media komunikasi baik berupa media hidup dan media mati. Media hidup yaitu orang – orang tertentu yang telah menerapkan materi penyuluhan atau pengetahuannya di bidang pertanian. Sedangkan media mati yaitu sarana baik berupa media cetak ataupun media elektronik.

3.    Alat pembantu penyuluhan.

Dalam penyuluhan pertanian terdapat 2 macam alat pembantu, yaitu :
Ø  Alat pembantu yang berhubungan dengan tempat, penyuluhan dapat dilakukan dimana saja asal tempat itu dikehendaki dan disetujui para petani, baik di ladang, rumah, ataupun di bawah pohon rindang. Alat bantu disini yaitu alat duduk (kursi atau tikar), kalau mungkin alat penerangan.
Ø  Alat pembantu yang berhubungan dengan penyajian pelajaran. Alat bantu ini meliputi : (a) visual aid atau yang dapat dilihat, (b) audio aid atau yang dapat didengar, dan (c) audio visual aid atau yang dapat dilihat dan didengar.



G.  WAKTU PENYULUHAN
Untuk mencapai keberhasilan dalam penyuluhan maka penyuluh harus melakukan pendekatan – pendekatan  tetapi haruslah diketahui waktunya yang tepat. Penyuluh harus mengetahui :

1.      Kapan para petani ada di lapangan, aktif bekerja.
2.      Kapan para petani ada di rumah, bersantai – santai dengan keluarganya
3.      Kapan para petani berkumpul di suatu tempat, bersantai, berbincang – bincang mengemukakan berbagai berita dan masalah.

H.  BIMAS
Bimas merupakan singkatan dari bimbingan missal, yang jelasnya yaitu suatu system penyuluhan pertanian secara massal dan berencana. Beberapa kegiatan Bimas dalam penyuluhan pertanian antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut:

1.      Penyediaan alat – alat produksi dan kredit,
2.      Menyelenggarakan bimbingan dan petunjuk – petunjuk teknis secara langsung kepada sasaran (para petani),
3.      Menyelenggarakan latihan – latihan praktis bagi para petani,
4.      Menyelenggarakan atau mengadakan demonstrasi,
5.      Menyelenggarakan siaran-siaran tertulis atau lisan.


0 komentar:

Poskan Komentar